Kamis, 20 November 2025 — untukmu, Novia Dewi Ningrum, di usiamu yang ke-25.
Semua ini berawal dari sebuah kajian di tahun 2022. Saat itu aku bahkan belum mengenalmu. Aku hanya tahu satu hal kecil tentangmu: kau adalah putri pemilik toko di timur masjid tempat kajian itu berlangsung.
Dari informasi kecil itu, rasa penasaran mulai tumbuh pelan-pelan—diam-diam, tanpa rencana apa-apa, tanpa berani sedikit pun mendekat.
Mungkin di sanalah Allah mulai menulis cerita kita, jauh sebelum aku siap mengakuinya.
Rasa penasaranku membawaku bertanya kepada beberapa tetanggamu, sampai akhirnya sebuah momen sederhana terjadi di pos ronda RT 1.
Di sana, aku melihat sebuah pamflet. Di sudutnya, tertulis kontak WhatsApp dan namamu: Novi.
Entah bagaimana, tanpa banyak pikir, aku langsung menyimpan nomormu. Bukan untuk mengganggumu, bukan untuk segera menyapamu. Hanya kusimpan— seperti menyimpan sebuah rahasia kecil yang bahkan tidak berani aku jelaskan pada diriku sendiri.
Saat itu aku tahu, kau sudah punya seseorang. “Kemana-mana perempuan ini selalu dengan pacarnya,” begitu kata orang.
Dan di titik itu, aku memilih untuk tetap diam.
Waktu berjalan. Perasaan itu tidak hilang, tapi aku tetap menjadi pria yang sama: canggung, tidak berpengalaman, dan tidak tahu bagaimana “mendekati perempuan”.
Satu hal yang pasti, aku tidak ingin sekadar pacaran. Dalam pikiranku, jika aku mendekati seseorang, itu karena aku ingin menikah, bukan hanya singgah sebentar di hidupnya.
Di bulan ke-4 tahun 2025, aku akhirnya memberanikan diri menghubungimu. Tapi aku melakukannya dengan cara yang salah: aku mengaku sebagai orang lain.
Kebohongan itu bukan karena aku ingin bermain-main. Lebih tepatnya, aku takut:
Dan seperti yang seharusnya terjadi, satu per satu kebohonganku kau ungkap. Lapisan demi lapisan, topeng itu kau lepas.
Tapi yang paling membuatku bersyukur adalah: kau tidak langsung pergi.
Di saat aku mulai mendekatimu, ternyata kau sudah tidak lagi bersama pacarmu. Di tahun sebelumnya, kau sudah mengakhiri hubungan itu.
Di titik itulah aku mulai berani berkata dalam hati: “Aku ingin mengenalnya… dengan cara yang benar.”
Pelan-pelan, aku membuka satu per satu siapa diriku yang sebenarnya. Bukan lagi tokoh fiksi yang kubuat karena takut, tetapi aku yang asli dengan segala kekurangan dan ketidakmatangan.
Dari sana, kita mulai dekat. Kita belajar bercerita, mendengarkan, dan memaafkan. Tidak mudah, tapi nyata.
Sejak saat itu, perjalanan kita tidak selalu lurus. Tapi kita terus memilih untuk melangkah bersama.
Kita sama-sama tahu, merubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan bukan hal yang mudah. Kadang butuh bertengkar, diam, merenung, lalu saling meminta maaf.
Dari merapikan kebiasaan masing-masing, mengubah tujuan hidup, sampai menyusun ulang harapan bersama— semua itu kita lakukan nyaris dari nol.
Ada hari-hari ketika kita lelah, hari ketika air mata ikut berbicara, dan hari ketika kita bertanya dalam hati: “Mampukah kita lanjut sejauh ini?”
Namun nyatanya, hingga hari ini, kita masih bertahan. Kita masih di sini—belajar saling memahami.
Dan aku percaya, itu bukan kebetulan. Itu adalah bentuk lain dari perjuangan.
Novi, hari ini usiamu genap 25 tahun. Di usiamu yang sekarang, aku melihatmu lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih lembut daripada yang kau sadari.
Aku tahu perjalanan hidupmu tidak selalu mudah. Ada masa-masa berat yang mungkin tidak sempat kau ceritakan padaku, ada luka yang kau simpan rapat-rapat, ada doa yang kau bisikkan hanya kepada Allah.
Di hari ini, aku ingin menghadiahkanmu sesuatu yang tidak bisa dibungkus: doa.
Ya Allah, pada hari yang penuh syukur ini, jadikanlah Novi perempuan yang Engkau lindungi dalam setiap langkahnya.
Lapangkan semua urusannya, ringankan segala perjuangannya, dan kuatkan hatinya ketika dunia mencoba menjatuhkannya.
Berikan kesehatan yang sempurna, rezeki yang berkah, ilmu yang bermanfaat, serta hati yang tenang dalam menjalani takdir-Mu.
Bimbinglah ia menjadi hamba yang Engkau cintai— yang lembut akhlaknya, tinggi kesabarannya, dan luas kasih sayangnya.
Dan jika Engkau izinkan, ya Rabb, jadikan aku salah satu alasan ia tersenyum hari ini, esok, dan seterusnya. Aamiin.
Doa ini mungkin tidak sempurna, tapi lahir dari hati yang sungguh-sungguh ingin menjagamu sebaik yang ia mampu.
Dari semua cerita yang kita jalani—jatuh, bangun, salah paham, saling menguatkan— aku sampai pada satu kesimpulan sederhana:
Aku ingin menua bersamamu.
Di ulang tahunmu yang ke-25 ini, aku menyimpan satu harapan besar: semoga di tahun berikutnya, Allah mengizinkan kita untuk menikah.
Menikah, membangun rumah kecil kita, dan menulis cerita baru yang penuh kejujuran, tanpa kebohongan, tanpa ragu, dan tanpa perlu lagi sembunyi di balik nama lain.
Jika hari itu tiba, aku ingin bisa berkata kepadamu:
“Aku syukuri setiap langkah panjang yang kita lalui, karena pada akhirnya, semua itu menuntunku sampai di sini— di hadapanmu.”
Selamat ulang tahun yang ke-25, Novi.
Terima kasih sudah bertahan sejauh ini bersamaku.
- Kekasihmu, Reno